Kalsel.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif percepatan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mekar Putih sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Kalimantan Selatan terhadap batu bara sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba mengatakan, KEK Mekar Putih harus dibangun sebagai pusat kegiatan ekonomi baru yang mampu menarik investasi, memperkuat industri, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya daerah.
Baca Juga:
Investasi Rp5,7 Triliun di KEK Industropolis Siap Serap Tenaga Kerja, MARTABAT Prabowo-Gibran: Batang Bisa Jadi Etalase Hilirisasi
“Kalau selama puluhan tahun kekuatan ekonomi Kalimantan Selatan banyak ditopang komoditas tambang, KEK Mekar Putih harus menjadi pintu masuk menuju struktur ekonomi yang lebih beragam dan tahan terhadap perubahan harga komoditas,” kata Tohom, Rabu (5/8/2026).
Menurut Tohom, posisi geografis Mekar Putih yang didukung perairan untuk kapal berukuran besar merupakan keunggulan penting karena kawasan industri modern membutuhkan akses logistik yang efisien menuju pasar domestik maupun ekspor.
“Industri akan tumbuh jika produksi dan logistik bertemu dalam satu ekosistem yang efisien, sehingga keunggulan pelabuhan harus diintegrasikan dengan jalan, kawasan industri, energi, dan jaringan distribusi,” ujarnya.
Baca Juga:
Pemerintah Buka Akses Produsen Lokal di KEK, MARTABAT Prabowo-Gibran: Industri Nasional Jangan Jadi Penonton
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan saat ini terus mendorong percepatan pembentukan KEK Mekar Putih sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekonomi daerah.
Kepala Bappeda Provinsi Kalimantan Selatan, Suprapti Tri Astuti menyebut struktur ekonomi daerah selama ini masih didominasi pertambangan batu bara sehingga pengembangan kawasan ekonomi diarahkan untuk memperkuat sektor produktif lainnya.
KEK Mekar Putih dirancang menjadi bagian dari pengembangan kawasan ekonomi di Tanah Bumbu dan Kotabaru yang nantinya saling terhubung dengan KEK Satui serta kawasan ekonomi lainnya.
Pemerintah juga merencanakan pembangunan jalan akses, jalan bypass Banjarbaru–Tanah Bumbu, serta jaringan penghubung lainnya untuk memperkuat konektivitas kawasan.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa konektivitas antarkawasan menjadi faktor penting agar KEK Mekar Putih tidak tumbuh sebagai pusat ekonomi yang berdiri sendiri tanpa memberikan efek pengganda bagi wilayah di sekitarnya.
“Yang harus dibangun bukan hanya KEK, melainkan sebuah koridor ekonomi yang menghubungkan kawasan industri, pelabuhan, pusat produksi, permukiman, dan jaringan transportasi sehingga pertumbuhan menyebar ke daerah sekitarnya,” kata Tohom.
Ia menilai rencana jalan bypass Banjarbaru–Tanah Bumbu dapat menjadi salah satu infrastruktur strategis apabila dirancang sebagai bagian dari jaringan logistik yang mendukung pergerakan barang dan investasi.
“Kecepatan investasi sangat dipengaruhi konektivitas, karena investor akan menghitung biaya logistik, kepastian energi, akses tenaga kerja, dan waktu distribusi sebelum menentukan lokasi usahanya,” ujarnya.
Usulan KEK Mekar Putih saat ini masih berproses di Dewan Nasional KEK dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mendukung kelengkapan dokumen serta penyiapan lahan sebagai persyaratan menuju penetapan melalui Peraturan Presiden.
Apabila seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Peraturan Presiden mengenai KEK Mekar Putih diharapkan terbit pada akhir 2026 sehingga pembangunan fisik dapat dimulai pada 2027.
Tohom menilai periode sebelum pembangunan fisik harus dimanfaatkan untuk memastikan calon investasi, kebutuhan energi, infrastruktur logistik, kesiapan tenaga kerja, dan keterhubungan industri telah dipetakan secara matang.
“Jangan menunggu kawasan selesai dibangun baru mencari investornya, karena sejak sekarang harus sudah jelas industri apa yang akan menjadi penggerak, pasar mana yang dituju, dan rantai pasok apa yang akan dibangun,” katanya.
Ia juga menyambut langkah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang mulai mempersiapkan sumber daya manusia melalui pengembangan pendidikan agar kebutuhan tenaga kerja dapat mengikuti transformasi ekonomi daerah.
Menurutnya, keberhasilan sebuah KEK pada akhirnya tidak cukup diukur dari luas kawasan atau besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat lokal memperoleh pekerjaan, keterampilan, kesempatan usaha, dan peningkatan kesejahteraan.
“Investasi terbaik adalah investasi yang membuat daerah naik kelas dan masyarakatnya ikut naik kelas, sehingga KEK Mekar Putih harus menjadi tempat tumbuhnya industri sekaligus manusia-manusia unggul Kalimantan Selatan,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Sandy]